![]() |
| ilustrasi @Puisi Cinta Romantis Asli Lombok |
Di dalam buku Bidayatul Hidayah, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala mengutip sebuah nasihat yang membuat hati terenyuh. Nasihat itu disampaikan oleh sahabat Alqamah al-‘Utharidi Radhiyallahu ‘anhu kepada anaknya.
“Wahai putraku, jika engkau hendak
berteman dengan seseorang, bertemanlah dengan orang yang jika engkau
berkhidmat kepadanya, maka ia mau menjagamu. Jika engkau bersamanya, dia
akan membahagiakanmu. Dan jika engkau tengah mendapat kesukaran, ia
akan membantumu.”
Inilah sahabat sejati yang tidak hanya
mengenal, tapi juga mengetahui dan memahami serta mampu mengorbankan
diri untuk keperluan sahabatnya dalam hal kebaikan. Ia akan mengerahkan
tenaga untuk menjaga sahabatnya. Ia mengupayakan agar sahabatnya bahagia
dan senantiasa ulurkan tangannya untuk membantu.
“Bertemanlah dengan orang yang jika
engkau mengulurkan tanganmu memberikan kebaikan, maka ia pun mengulurkan
tangan untuk menerimanya. Jika melihat engkau berbuat baik, ia akan
mendukungmu. Dan jika ia meihat engkau berbuat buruk, ia akan
mengingatkanmu dengan baik.”
Ketika dibantu, ia tidak pasif. Ia
menerima bantuan kemudian berupaya memberikan balasan atas kebaikan yang
didapatkan. Tatkala kita susah, sahabat yang kita bantu itu menjadi
sosok pertama yang ulurkan bantuan. Ia juga senantiasa mendukung kita di
jalan kebaikan dan akan menjadi yang terdepan dalam mengingatkan,
tatkala kita berbuat keliru.
“Bersahabatlah dengan seseorang yang
akan membenarkan bila engkau berbicara, yang akan membantumu bila engkau
memerlukan sesuatu, dan yang bersedia mengalah jika kalian bertentangan
tentang suatu hal.”
Lantaran memahami kita sebagai sahabat
baiknya, ia akan menjadi pembela saat kita berbicara kebaikan, saat kita
menyampaikan dakwah kepada umat manusia agar hanya menyembah Allah
Ta’ala.
Ia akan bergegas memberikan bantuan saat kita butuh, pun jika ia harus mengorbankan hal yang paling berharga di dalam hidupnya.
Tatkala ada ketidakcocokan atau salah paham di antara keduanya, ia juga bersikap dewasa dengan mengalah demi
kemaslahatan ukhuwah yang lebih besar. Ia tidak egois, bukan sosok yang
mau menang sendiri, bukan pula orang yang sombong dengan merasa paling
benar.
Jika nasihat ini disampaikan oleh
seluruh ayah kaum Muslimin, niscaya generasi ini menjadi sekumpulan
manusia terbaik yang mengulangi sejarah kecemerlangan kaum Muslimin
terdahulu. Sebab satu di antara sebab kehancuran generasi akhir adalah
kesalahan dalam pergaulan.
Wallahu a’lam. [Pirman/Bersamadakwah]
Source : bersamadakwah.net

EmoticonEmoticon